Perlu reformasi paradidigma berpolitik

Golkar Evaluasi Kekalahan JK-Wiranto pada Pilpres
JAKARTA - DPP Partai Golkar kemarin mengevaluasi kekalahan pada pemilu presiden. Dalam rapat tertutup tersebut diungkap sejumlah penyebab kekalahan JK-Wiranto dari pasangan SBY-Boediono. Salah satunya, sejumlah bupati dari Golkar mengaku mendapat tekanan agar tidak berkampanye bagi JK-Wiranto.

Ketua DPP Partai Golkar Firman Soebagyo mengatakan, penyebab utama kekalahan JK-Wiranto adalah kuatnya citra figur SBY yang didukung tim kampanye yang sangat sistematis. SBY juga dinilai berhasil mengapitulasi program pemerintah seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk mengukuhkan citra dirinya.

Firman menilai hal itu wajar karena merupakan nilai plus incumbent. “BLT dan PNPM itu harus diakui program yang menarik masyarakat. Debat ternyata tidak membawa perubahan dukungan, karena di Jawa berkembang realitas, mana yang memberi sesuatu itu yang dipilih,” tuturnya.

Di pihak lain, jago yang diusung Golkar dinilai tidak memiliki akses dukungan dana serta kemampuan mengapitulasi program pemerintah menjadi poin plus untuk dirinya. “Dana Golkar jauh bila dibandingkan dengan pihak lawan. Harus diakui itu menentukan sekali,” tandasnya.

Selain hal itu, tutur Firman, DPD I Partai Golkar Jawa Tengah melaporkan adanya tekanan kepada bupati dari pihak tertentu agar tidak berkampanye untuk JK-Wiranto. “Saya tidak berani menyampaikan, tanya Bambang Sadono (ketua DPD I Golkar Jateng) sendiri,” katanya.

Ketika dikonfirmasi, Bambang enggan bersuara. Dia menilai semua pihak berusaha memaksimalkan usahanya memenangkan pertarungan. “Usaha JK dan tim kampanye sudah luar biasa, namun ada faktor di luar usaha kita,” katanya tanpa bersedia merinci keterangannya.

Bambang menilai jago Golkar kalah start karena Partai Demokrat sudah mengampanyekan SBY sebagai capres sejak lima tahun lalu. “Ke depan Golkar harus memutuskan, siapa pun yang jadi ketua umum harus siap jadi capres,” tegasnya.

Di Jawa Tengah JK-Wiranto hanya meraih 8,82 persen suara, kalah jauh bila dibandingkan dengan SBY yang meraup 52,46 persen, dan Mega-Prabowo yang meraup 38,72 persen suara.

Berdasarkan evaluasi kemarin, Aceh dinilai paling gagal karena hanya mendapatkan empat persen suara. JK hanya unggul di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. “Meski gagal, tidak akan ada sanksi dari partai. Kita hanya menginginkan Golkar tidak sekadar merenungi kekalahan, tapi mencari pelajaran dari kekalahan ini,” papar Firman. (noe)

One response to this post.

  1. Posted by trunojoyo on Juli 22, 2009 at 1:19 am

    assalamualaikum.pembaca yg budiman..!! sebagai salah satu bagian elemen bangsa ini, terus-terang penulis sangat kecewa melhat keadaan bangsa ini,mungkin ini terlalu naif,tapi adalah kenyatan fakta.dimana indonesia yang notabenya kaya akan potensi alam seharusnya mampu berdiri menjadi negara sekaliber amerika. apakah mungkin..?? tentu saja mungkin, dan perhatikan adalah kearifan dari pelaku kekuasaan. bagaimana mereka mempunyai daya dalam membawa bangsa ini lebih maju.. dan salah satu kuncinya adalah prilaku dalam berpolitik.jika kita sejenak berbicara kepada masyarakat bagimana pandangan mereka terhadap pratek politik. dengan r\serentak meraka secara umun akn mengatakan bahwa politik itu kotor.paradigma seperti ini, tentunya akan menghambat bagi kemajuan bangsa.sehingga ada penyakit, dimana orng berprilaku menjauhi rana berpolitik.dan akhirnya peran politik hanya di kuasai oleh orang2 yang pada dasarnya penyebab dari buruknya keadaan politik.disini lah perlunya suatu strategi reformasi paradigma berpolitik. dan ingat reformasi ini tdk lah ber-arti apa2 jika sistem yg selama ini dipakai yg notabenya nyata2 telah membuka adanya prilaku politik kotor, harus di hilangkan. kita cukup belajr dari sejarah perjalanan bangsa ini,dimana sebelum jaman reformasi,kita sepakat bahwa keadaan bangsa kala itu sangat memprihatikan,sistem birokrasi yg amburadul,prilaku korupsi yang parah,dari fakta2 inilah maka timbul dari benak masyarakt bangsa ini akan pentingnya sebuah reformasi.Dan pada ujung leluasaan ode baru lengser,bergantilah jaman reformasi..seiring berjalannya waktu ternyata reformasi yang telah di usung,walaupun dengan mengorbanlkan darah nyata2 belum menampak hasil sesuai dengan harapn bangsa ini.Ini dikarenakan bahwa sistem yg di pakai sam saja dengan tempo dulu. ibaratnya seperti ini, orang akan dinilai dari segi pakaiannya..selama pakaian itu jelek,betapapun dia berias tetep saja dia akn mempunyao nilai kekurangan.berbeda jika,orang yng menginginkan adanya perubahab pada dirinya, dan dia meruba gaya hidupnya.dia kan dilanali sebagai orang yg baru”. reformasi politik seperti itu,ya walupun perumpamaan ini tidaklah sesederhana dalam pratik politik.selagi bangsa ini mau berbenah,insyaalah akan lebih maju.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.